Harianmemokepri.com | Lingga — Dengan memanfaatkan pelataran rumah, Ketua Karang Taruna Rumbia Dusun l Senempek, membuat Taman Bacaan Masyarakat (TBM) guna memberikan ilmu pengetahuan kepada warga dalam mengisi waktu kosong, dan para pelajar saat pulang sekolah.

Ketua Karang Taruna Rumbia Rasyid mengatakan, Kegiatan TBM sudah berjalan selama kurang lebih 5 bulan bekerjasama dengan kepala desa. Karang Taruna meminjam buku bacaan yang ada di perpustakaan kantor desa, dan juga sumbangan buku dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

“Sejauh ini kami menggunakan buku-buku yang disumbangkan oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan juga dari perpustakaan desa, kemaren sudah ada penawaran dari perpustakaan daerah diminta membuat surat untuk peminjaman buku, Insya Allah dalam waktu dekat akan kami usahakan untuk lansung menyurati perpustakaan daerah yang ada di Daik,” jelas Rasyid, Selasa (08/20).

Rasyid juga mengatakan, peminat baca diwilayahnya sangat ramai sekali, tidak hanya para pelajar, bahkan para orang tua pun datang dan ikut membaca di TBM tersebut.

“Sebenarnya kita masih kekurangan buku, sambil mengumpulkan buku-buku bacaan, saya dan kawan-kawan Karang Taruna Desa Limbung sedang berusaha memperluas tempat membaca bagi para peminat baca di TBM,” ucapnya.

Rasyid berharap dengan adanya kegiatan TBM, karang taruna bisa memberikan edukasi kepada warga untuk mengisi waktu kosong sehari-hari di tengah pandemi covid-19.

“Anak-anak yang mereka masih kurang mendapat pelajaran di luar sekolah, mereka bisa menuangkan pembelajaran disini seperti membaca, menulis, atau melukis, kemudian saya juga berharap para pegiat literasi lebih bergiat lagi untuk melakukan sosialisasi ke pelosok-pelosok apalagi seperti di wilayah kita disini karena selain memberikan manfaat sebagai ilmu pengetahuan juga mengalihkan perhatian para remaja dari gawai atau gadget,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kab. Lingga Drs Junaidi saat dikonfirmasi awak media harianmemokepri.com mengatakan kegiatan tersebut cukup bagus untuk pengembangan literasi bagi para pelajar dan juga masyarakat.

“Yang jelas tentu pemberian terhadap asfek kognitif dalam proses belajar ilmu pengetahuan,” ucap Drs. Junaidi.

Lanjut Drs. Junaidi, kegiatan TBM harus ada literasi atau literatur yang harus dibenahi.

“Saya kira tentu ada donatur-donatur yang bersedia untuk melengkapi literasi atau literatur yang terkait dengan taman bacaan itu, karena dibentuk dalam sebuah taman bacaan tentu ada berbagai literatur yang tersimpan atau tersedia disitu untuk membaca masyarakat,” lanjutnya.

Drs. Junaidi juga berpesan saat ini hanya bisa memberikan dukungan secara moral dikarenakan secara program kegiatan tersebut merupakan kegiatan belajar non formal.

“Boleh bersinergi, dengan catatan kita mungkin melihat ada tidaknya buku-buku bacaan yang bisa nanti untuk disumbangkan ke TBM itu, dan dilihat juga porsi minat baca dari masyarakat disitu, kalau daya dari minat masyarakatnya bagus, saya kira perlu dikembangkan,” tutup Junaidi.