Banyak anak muda desa yang memilih kembali ke kampung halaman mereka setelah menyelesaikan pendidikan tinggi di kota besar untuk mengelola usaha pariwisata berbasis komunitas yang berwawasan lingkungan.

Mereka memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan keindahan desa tanpa harus mengorbankan privasi serta norma kebudayaan yang selama ini dipegang teguh oleh para sesepuh atau tetua adat setempat.

Wisatawan yang berkunjung ke kawasan ini diajak untuk tidak sekadar berswafoto melainkan ikut serta mempelajari tata cara hidup ramah lingkungan yang telah terbukti mampu bertahan melintasi berbagai era perubahan.

Menutup perjalanan hari ini di bawah naungan pohon bambu yang rindang menyadarkan kita bahwa kemajuan zaman tidak selalu harus merusak akar tradisi budaya yang telah dibangun oleh para leluhur bangsa Indonesia.