Kegigihan tercermin dari kemauan untuk terus berusaha meskipun menghadapi kegagalan, sedangkan empati diwujudkan melalui kepedulian dan kesediaan membantu sesama.

 

“Patriotisme tanpa kepedulian akan kehilangan maknanya. Kegigihan tanpa nurani akan kehilangan arahnya. Dan kemajuan tanpa kemanusiaan bukanlah kemajuan yang sesungguhnya,” tegasnya.

 

Lis juga mendorong pemuda Tanjungpinang untuk berani menetapkan cita-cita besar, terus meningkatkan kemampuan, serta memberikan kontribusi positif bagi lingkungan dan masyarakat.

 

Ia berharap generasi muda tidak hanya berorientasi pada pencapaian pribadi, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial dan semangat pengabdian untuk mendukung kemajuan bangsa.

 

Menurutnya, masa depan Indonesia ditentukan oleh apa yang dilakukan generasi saat ini.

Karena itu, pemuda perlu mengambil peran aktif dalam membangun bangsa melalui ilmu pengetahuan, karya, kerja keras, dan kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

 

“Mari kita bangun generasi yang patriotik dalam pengabdian, gigih dalam perjuangan, dan berempati dalam kemanusiaan. Sebab masa depan bangsa bukan hanya sesuatu yang akan kita temui. Masa depan adalah sesuatu yang sedang kita bangun bersama. Salam Pemuda!” tutup Lis.