Namun, setelah dua bulan, kegiatan ini tidak akan berhenti, melainkan dilanjutkan secara berkelanjutan dengan melibatkan elemen masyarakat.

“Setelah dua bulan, penataan akan terus berlanjut dengan melibatkan masyarakat melalui camat, lurah, RW, dan RT, untuk meminimalisir kekumuhan di Kota Tanjungpinang,” ujar Rusli, Senin (28/4/2025) melalui pesan WhatsApp.

Rusli menambahkan, prioritas penataan saat ini difokuskan pada jalan arteri (protokol), jalan kolektor, dan jalan lingkungan permukiman.

Pihaknya menginginkan Tanjungpinang sebagai ibukota Provinsi nyaman untuk dikunjungi para wisatawan baik Internasional maupun lokal.

“Kita ingin Tanjungpinang sebagai ibu kota Provinsi Kepri terlihat berseri, sesuai karakter kota kecil yang mungil dan nyaman untuk dikunjungi wisatawan mancanegara maupun domestik, sebagaimana visi dan misi BIMA SAKTI,” ungkapnya.