HARIANMEMOKEPRI.COM — Bulan Muharram selalu diperingati setiap tahunnya bagi seluruh umat muslim dan memiliki kesan tersendiri. Bulan Muharram disebut juga sebagai Syahrullah Al Asham atau bulan Allah yang sunyi.

Bulan Muharram secara dapat diartikan bulan yang diharamkan yaitu bulan didalamnya orang orang arab diharamkan (dilarang) melakukan peperangan. Begitulah kebiasaan mereka pada tempo dulu mengkhususkan bulan – bulan peperangan dan bulan gencatan senjata.

Baca Juga: Selain Anjangsana dan Bantuan Sembako, Kejaksaan Tinggi Kepri Beri Perlindungan Hukum Kepada Anak Panti Asuhan

Dalam Tafsir Ibnu Katsir yang mana artinya sebagai berikut:

“Dinamakan Bulan Muharram karena bulan tersebut memiliki banyak keutamaan dan kemuliaan, bahkan bulan ini memiliki keistimewaan serta kemuliaan yang sangat amat sekali dikarenakan orang arab tempo dulu menyebutnya sebagai bulan yang mulia (haram), tahun berikutnya menyebut bulan biasa (halal)”

Orang zaman dahulu meyakini bahwa Bulan Muharram adalah bulan suci sehingga tidak layak menodai bulan tersebut dengan peperangan. Maka sesuai dengan penamaannya Bulan Muharram adalah bulan yang dimuliakan dan bulan dimana di larang melakukan peperangan.

Baca Juga: Festival Muharam 1445 H IPEMI Kota Tanjungpinang Dukung Pemulihan Ekonomi UMKM

Demikianlah Allah SWT telah menentukan empat bulan yang dimuliakan tiga diantaranya berurutan yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Sedangkan terakhir adalah Rajab terletak antara bulan Jumadil ula dan Sya’ban.

Dalam Al Qur’an surat AT Taubah ayat 36 yang artinya

“Sungguh bilangan bulan pada sisi Allah SWT terdiri atas dua belas bulan, dalam ketentuan Allah SWT pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketentuan) agama yang lurus. Janganlah kamu menganiaya diri kamu pada bulan yang empat itu. Perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa Allah SWT beserta orang-orang yang bertaqwa”.

Baca Juga: Satgas Operasi Patuh Seligi 2023 Polres Bintan Berikan Teguran Bagi Pengendara Bawah Umur

Kenapa Bulan Muharram disebut sebagai bulan Allah ? Padahal Bulan Muharram memiliki keutamaan yang sama atau lebih sedikit dengan bulan lainnya dibandingkan bulan Ramadhan.

Syekh Jalaluddin As Suyuthi mengatakan, bahwa kelebihan Bulan Muharram terletak pada namanya yang islami dibandingkan nama bulan hijriah lainnya. Nama bulan hijriah selain Muharram merupakan nama bulan yang dipakai pada zaman jahiliah.

Baca Juga: Pasar Puan Ramah Sepi Dari Pembeli, Begini Penjelasan Walikota Tanjungpinang

Sementara Bulan Muharram pada era masyarakat jahiliah dinamakan bulan Shafar Awwal, sedangkan bulan setelah Bulan Muharram disebut bulan Shafar Tsani. Saat Islam datang Allah menyebut Shafar Awwal dengan Bulan Muharram yang dinisbahkan dengan asma Nya.

Selain itu pada Bulan Muharram terdapat puasa Sunnah tingkatannya hanya satu level di bawah puasa Ramadhan. Artinya puasa di Bulan Muharram sangat di anjurkan, puasa tersebut dilakukan pada tanggal 9,10 dan 11 Bulan Muharram. Hal ini dijelaskan Syekh Jalaluddin As Suyuthi pada Syarah hadits atas shahih Muslim, Ad Dibaj fi Syarhi Shahihi Muslim Ibnil Hajjaj.***