HARIANMEMOKEPRI.COM — Tidak terasa sebentar lagi kita akan bertemu dengan Bulan Suci Ramadhan dimana dalam bulan tersebut semua ibadah dilipatgandakan.

Dalam Bulan Suci Ramadhan juga dipenuhi keberkahan yang kita dapatkan. Bahkan dosa dosa kitapun dihapus oleh Allah SWT jika kita menjalaninya dengan baik dengan mentaati apa yang menjadi perintah Allah SWT.

Bulan Suci Ramdhan juga sebagai bulan yang penuh dengan kemuliaan yang diturunkan kepada manusia serta melatih diri kita sebagai umat manusia dalam bersabar dari godaan hawa nafsu.

Lantas bagaimana kita sebagai umat manusia dalam menyambut kehadiran Bulan Suci Ramadhan? berikut penjelasannya.

Pertama, doa yang diriwayatkan Sayyidina ‘Ubadah bin al-Shamith (34 H). Dalam hadits tersebut Rasulullah mengajarkan doa atau kalimat yang dibaca saat Bulan Suci Ramdhan datang. Berikut riwayatnya (sanadnya hasan):

عن عبادة بن الصامت رضي الله عنه, قال: كان رسول الله صلي الله عليه وسلم يعلمنا هؤلاء الكلمات إذا جاء رمضان أن يقول أحدنا: أللهمَّ سَلِّمْنِي مِنْ رَمَضَانَ، وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِي، وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلًا

“Dari ‘Ubadah bin al-Shamith radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari kami bacaan berikut ini untuk dibaca oleh salah satu dari kami saat Ramadhan datang:

“Allahumma salimnî min ramadlâna wa sallim ramadlâna lî wa tasallamhu minnî mutaqabbalan”

Ya Allah, sampaikan aku dengan selamat menuju bulan Bulan Suci Ramdhan. Sampaikanlah Bulan Suci Ramdhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di Bulan Suci Ramdhan.” (Imam Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad ath-Thabrani, Kitâb al-Du’â’, Kairo: Dar al-Hadits, 2007, hlm. 311)

Imam ath-Thabrani juga memasukkan doa yang sama dengan periwayat dan redaksi sedikit berbeda. Diriwayatkan oleh Imam Makhul al-Syami (w. 112 H) bahwa ia membaca doa ini saat memasuki Bulan Suci Ramdhan:

أللهمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ، وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِي، وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلًا

“Allahumma salimnî li ramadlâna wa sallim ramadlâna lî wa tasallamhu minnî mutaqabbalan” Ya Allah, sampaikan aku dengan selamat kepada Bulan Suci Ramdhan. Sampaikanlah Ramadhan kepadaku juga dan terimalah amal-amalku di Bulan Suci Ramdhan.” (Imam Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad ath-Thabrani, Kitâb al-Du’â’, 2007, hlm. 312)

Kedua, doa yang berasal dari Imam Abdul ‘Aziz bin Abi Rawad (w. 159 H), seorang ahli hadits, ahli ibadah dan imam Masjid al-Haram. Imam Abdullah bin Mubarak memamndangnya sebagai “a’badinnâs” orang yang paling luar biasa ibadahnya di antara manusia. Ia murid langsung dari Sayyidina Salim bin Abdullah bin Umar (w. 106 H), Imam Nafi’ (w. 117 H), dan lain sebagainya. Berikut riwayat doa yang berasal darinya (sanadnya hasan):

عن عبد العزيز بن أبي رواد قال: كان المسلمون يدعون عند حضرة شهر رمضان: اللّٰهمَّ أَظَلَّ شَهْرُ رَمَضَانَ وَحَضَرَ، فَسَلِّمْهُ لِي وَسَلِّمْنِي فِيهِ وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي، اللهمَّ ارْزُقْنِي صِيَامَهُ وَقِيَامَهُ صَبْرًا واحْتِسَابًا، وَارْزُقَنِي فِيْهِ الْجَدَّ وَالْإِجْتِهَادَ والقُوَّةَ والنَّشَاطَ، وَأَعِذْنِي فِيهِ مِنَ السّآمَةِ وَالفَتْرَةِ وَالكَسَلِ والنُّعَاسِ, وَوَفِّقْنِي فيه لِلَيْلَةِ الْقَدْرِ وَاجْعَلهَا خَيْرًا مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Dari Abdul Aziz bin Abi Rawad, ia berkata: “Kaum muslimin berdoa saat bulan Ramadhan hadir:

“Allahumma adhalla syahru ramadhâna wa hadlara, fa sallimhu lî wa sallimnî fîhi wa tasallamhu minnî. Allahummarzuqnî shiyâmahu wa qiyâmahu shabran wahtisâban, warzuqnî fîhil jadda wal ijtihâda wal quwwata wan nasyâtha, wa a’idznî fîhi minassâmati wal fatrati wal kasali wan na’âsi, wawaffiqnî fîhi li lailatil qadri waj’alhâ khairan min alfi syahrin.”

Ya Allah, Bulan Suci Ramdhan sudah membayangi dan datang. Maka, sampaikanlah Bulan Suci Ramdhan kepadaku, dan sampaikanlah aku dengan selamat ke dalamnya, dan terimalah amal-amalku di Bulan Suci Ramdhan.

Ya Allah, karuniailah aku kesabaran dan niat tulus mengharap pahala dan ridha-Mu atas puasa Ramadhanku dan qiyamul lailku. Ya Allah, karuniailah aku dalam Bulan Suci Ramdhan kesungguhan hati, ketekunan, kekuatan, dan vitalitas.

Ya Allah, lindulingah aku dalam Bulan Suci Ramdhan dari kebosanan, lemah lesu, kemalasan, dan lemas banyaknya kantuk. Ya Allah, sukseskanlah aku dalam mendapatkan lailatul qadar di Bulan Suci Ramdhan ini, dan jadikanlah pahala atau kebaikannya lebih baik dari seribu bulan.” (Imam Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad ath-Thabrani, Kitâb al-Du’â’, 2007, hlm. 312).

Ketiga, doa yang diriwayatkan Imam Abu ‘Utsman an-Nahdi (w. +91-100 H), seorang tabi’in dan ahli hadits dari Basrah. Ia meriwayatkan hadits dari Sayyidina Umar bin al-Khattab, Sayyidina Ali bin Abu Thalib, Sayyidina Abdullah bin Mas’ud dan banyak sahabat lainnya Jamaluddin Abi al-Hajjaj Yusuf al-Mizzi, Tahdzîb al-Kamâl fî Asmâ’i al-Rijâl, Beirut: Muassasah al-Risalah, 1992, juz 17, hlm. 425-426). Berikut riwayatnya (sanadnya hasan):

عن أبي عثمان النهدي قال: قالت عائشة رضي الله عنها: لما حضر رمضان قلت: يا رسول الله, قد حضر رمضان فما أقول؟ قال: قولي: اللهمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي.

“Dari Abu ‘Utsman an-Nahdi, ia berkata: “Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Ketika Ramadhan datang, aku berkata: “Ya Rasulullah, sungguh Bulan Suci Ramdhan telah tiba, maka apa yang harus kuucapkan?” Rasulullah berkata: Ucapkanlah:“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni”

(Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Memaafkan, mencintai maaf, maka maafkanlah diriku). (Imam Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad ath-Thabrani, Kitâb al-Du’â’, 2007, hlm. 312).***