HARIANMEMOKEPRI.COM — Misteri kapal kargo KM Polo yang menghebohkan warga Desa Pekajang, Kecamatan Lingga, Kabupaten Lingga, akhirnya terungkap.
Kapal tanpa awak yang ditemukan terdampar di perairan Pulau Pekajang Besar itu diketahui berasal dari Taiwan dan telah ditinggalkan awaknya sejak November 2025 lalu.
Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Dabo Singkep, Letkol Laut (P) Hendro Wicaksono, menjelaskan bahwa KM Polo bertolak dari Taiwan pada 8 November 2025 dengan tujuan Hongkong.
Namun, sehari kemudian kapal tersebut mengalami kerusakan mesin dan diterjang badai topan Fung-Wong.
“Pada 9 November 2025, keenam awak kapal yang merupakan warga negara Indonesia sempat mengirim sinyal darurat. Seluruh awak berhasil dievakuasi menggunakan helikopter Black Hawk pada hari yang sama,” ujar Hendro, Jumat (2/1/2026).
Setelah ditinggalkan, KM Polo terombang-ambing tanpa kendali di lautan lepas selama berminggu-minggu.
Kapal itu kemudian terbawa arus hingga tersangkut di karang perairan Pulau Pekajang Besar, Kabupaten Lingga.
Keberadaan kapal tersebut pertama kali dilaporkan oleh masyarakat setempat pada akhir Desember 2025.
Menindaklanjuti laporan itu, tim gabungan TNI AL dari Lanal Dabo Singkep melakukan pemeriksaan langsung ke lokasi pada Sabtu (27/12/2025).
Dari hasil pemeriksaan, kondisi kapal dinyatakan sangat memprihatinkan. Badan kapal tampak berkarat, anjungan dalam keadaan berantakan, peralatan navigasi tidak lengkap, serta bagian dalam kapal mengeluarkan bau busuk yang menyengat.
“KM Polo membawa total 10 kontainer, lima di antaranya berisi daging yang sudah membusuk, satu kontainer terbuka berisi tali dan karung, sementara empat kontainer lainnya kosong,” ungkap Hendro.
Ia menegaskan, muatan daging tersebut berpotensi membahayakan kesehatan karena telah mengalami pembusukan parah, ditandai dengan aroma menyengat yang tercium dari dalam kapal.
Atas kondisi tersebut, Lanal Dabo Singkep mengimbau masyarakat agar tidak mendekati kapal demi menghindari risiko gangguan kesehatan.
Selain itu, faktor cuaca juga menjadi perhatian, mengingat perairan Pekajang dan sekitarnya saat ini memasuki musim angin utara dengan tinggi gelombang mencapai satu hingga empat meter.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di sekitar kapal demi keselamatan bersama,” tegas Hendro.
Kehadiran kapal tanpa awak ini sempat menimbulkan kecemasan di tengah masyarakat. Pemeriksaan yang dilakukan TNI AL merupakan bagian dari upaya menjaga keamanan perairan nasional sekaligus mencegah potensi gangguan keselamatan dan kesehatan lingkungan.
Hingga kini, penanganan lanjutan terhadap KM Polo masih menunggu keputusan dari pihak berwenang dengan mempertimbangkan aspek keselamatan, kesehatan, dan lingkungan sekitar.

