Ketika sebagian besar orang memilih menghabiskan akhir pekan dengan bersantai di kedai kopi, Dian Lestari justru menempuh jalur setapak berlumpur sepanjang lima puluh kilometer di lereng Gunung Merbabu.

Keringat yang menetes menyusuri pipinya menjadi saksi bisu perjuangan seorang perempuan berusia tiga puluh lima tahun yang pernah divonis tidak akan bisa berjalan normal akibat kecelakaan lalu lintas.

Ketabahan mental yang ia pupuk selama masa pemulihan panjang telah mengubah rasa trauma mendalam menjadi energi luar biasa untuk menaklukkan berbagai lintasan lari paling ekstrem di Tanah Air.

Pernahkah Anda membayangkan bagaimana rasanya membangkitkan kembali semangat hidup yang sempat padam sepenuhnya ketika fisik tak lagi mampu merespons keinginan otak secara sempurna?

Bangkit dari Bayang-Bayang Kelumpuhan

Enam tahun silam, sebuah truk menghempas sepeda motor yang dikendarai Dian di kawasan pinggiran Yogyakarta hingga menyebabkan patah tulang panggul serta kerusakan saraf ekstremitas bawah yang sangat parah.

Tim dokter yang menanganinya kala itu secara jujur menyatakan bahwa peluang Dian untuk dapat melangkah kembali tanpa bantuan alat penyangga sangatlah tipis dan membutuhkan keajaiban medis.

Bukannya tenggelam dalam kesedihan yang berlarut-larut, mantan arsitek ini justru memilih fokus pada latihan fisioterapi harian yang menyakitkan dengan kedisiplinan setingkat prajurit militer demi meraih kembali kemandirian fisiknya.

Proses latihan yang berlangsung selama dua tahun penuh tersebut terbukti tidak hanya menyembuhkan cedera fisiknya, tetapi juga menanamkan kesadaran baru tentang kerapuhan sekaligus ketangguhan tubuh manusia.