Harian Memo Kepri | Nah Loh —PRODUK hukum bisa diuji materi di MK, kalau produk pengkhianatan cinta? Menurut Nurhakim, 34, dari Kaltim, uji materinya lewat panasnya api. Ketika menuduh istrinya selingkuh, dia memaksa Latifah, 30, untuk mati bersama dengan cara membakar rumahnya. Nurhakim sukses bunuh diri, tapi kasihan anak-anak yang ditinggalkannya.
Orang mati bunuh diri, adalah tanda-tanda keputus-asaan. Padahal Allah Swt telah mengingatkan pada hamba-Nya yang melampui batas, jangan kamu putus asa atas rahmat Allah. (Surat Az Zumar 34).
Tapi karena di saat yang sama setan juga mengomporinya bahwa bunuh diri juga tak masalah, banyak umat yang tergoda karenanya. Dengan bunuh diri akan selesai semua urusan dunia, dari tagihan kartu kredit, cicilan rumah BTN, sampai bayar PBB dan perpanjangan STNK mobil.
Nekadnya Nurhakim warga Kabupaten Kotawaringin, bukan karena dikejar utang, tapi frustasi karena menuduh istrinya, Latifah, punya PIL. Bukan pil kina, bukan pula pil obat maag, tapi berakibat sama pahitnya. Sebab kehadiran Pria Idaman Lain (PIL) kan sama saja pengkhianatan cinta.
Jika produk hukum atau UU, menguji materinya gampang melalui MK. Tapi masalah cinta, tak mungkin dong dijadikan PR-nya Anwar Usman Cs di Jalan Merdeka Barat, Jakarta. Maka Nurhakim mencoba menyelesaikan kemelut rumahtangganya dengan cara sendiri, setidaknya mengacu kisah perwayangan dengan lakon “Sinta Obong”.
Dalam kisah perwayangan seri Ramayana disebutkan, setelah kematian Prabu Dasamuka Ramawijaya meragukan kesucian istrinya, Dewi Sinta. Mustakhil bertahun-tahun dalam kekuasan raja Ngalengka, istrinya masih suci hama tak terjamahkan.
Maka untuk menguji materi, Dewi Sinta pun dibakar hidup-hidup. Ternyata Sinta tetap selamat, sehingga diyakini bahwa selama ini kehormatannya masih utuh buntelan plastik.
Nurhakim memang sedang terjebak problematik semacam itu. Dikabarkan para saksi mata bahwa Latifah istrinya ada main dengan lelaki lain. Dia sudah mengklarifikasi, tapi Latifah membantah.
Padahal bukti-bukti banyak menguatkan tuduhan itu. Ketimbang pusing mencari kebenaran, akhirnya Nurhakim memutuskan bunuh diri bersama, meski itu ditentukan sepihak, tanpa musyawaroh dan mufakot bersama istrinya.
Tahu-tahu kedua anaknya disuruh keluar, lalu rumah dikunci dari dalam. Latifah mencoba keluar, tapi gagal karena api keburu membesar dan beberapa jam kemudian ditemukan warga Nurhakim dan Latifah sudah tanpa bentuk.
Polisi hanya bisa memeriksa saksi mata, tanpa bisa mengusut pelakunya. Kasihan nasib anak-anaknya.
Bapak kelewat emosi, anak terpaksa harus diadopsi.
sumber | dok. | poskotanews.com









