HARIAN MEMO KEPRI, JAKARTA Negara Islam di Irak dan Suriah, media sosial, anak muda, perempuan, dan lone wolf menjadi ciri-ciri kunci gerakan terorisme di Indonesia pada 2016. Selamat datang di era Terorisme 2.0, saat gerakan radikal hadir di semua sisi kehidupan via dunia maya. Siapkah kita mengantisipasinya? Pada dekade 1980-an hingga 2000-an awal, kelompok Al Qaeda menghadirkan ancaman baru di dunia modern dengan terorisme berkedok agama. Amerika Serikat, Eropa, Afrika, hingga Asia, termasuk Indonesia, pernah menjadi sasaran peledakan bom para pelaku teror yang berafiliasi dengan kelompok itu. Nyawa ribuan orang menjadi tumbal ambisi mereka menciptakan negara khilafah. Jemaah Islamiyah (JI) merupakan sel Al Qaeda di Indonesia. Namun, penangkapan terhadap sejumlah pemimpin JI, di antaranya Abu Bakar Ba’asyir, Dulmatin, Azahari Husin, dan Noordin M Top, oleh Detasemen Khusus 88 Anti Teror Polri pada 2009 dan 2010 melumpuhkan jaringan tersebut. Ini mengakhiri era terorisme jilid satu di Tanah Air. Namun, konflik negara-negara di Timur Tengah sejak 2011 membangunkan kembali sel-sel teroris yang sempat tertidur. Kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) yang didirikan di Irak oleh Abu Bakar al-Baghdadi pada 2013 menjadi wadah baru sel-sel teroris dunia, tak terkecuali Indonesia, untuk melanjutkan mimpi yang belum terpenuhi bersama Al Qaeda. Kehadiran NIIS menandakan era baru gerakan terorisme dunia. Jessica Stern dan JM Berger dalam buku ISIS: The State of Terror (2015) mengurai perbedaan antara Al Qaeda dan NIIS. Pertama, NIIS bersifat terbuka mengundang warga dunia untuk bergabung, sedangkan Al Qaeda memiliki kriteria khusus bagi orang-orang yang ingin bergabung sehingga terkesan tertutup dan bergerak seperti organisasi rahasia. Pimpinan dan anggota JI setidaknya pernah menjalani pendidikan paramiliter di Afganistan pada periode 1980-1990. Sementara kelompok NIIS di Indonesia tak memiliki keahlian militer. Kemampuan menggunakan senjata hingga merakit bom dipelajari dari dunia maya. Aman Abdurahman, terpidana terorisme yang masih ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, dapat menjadi tokoh utama gerakan sel NIIS Indonesia. Aman tidak pernah mengikuti pelatihan militer di luar negeri, tetapi ia mampu menerjemahkan sekitar 30 buku dan instruksi yang dikeluarkan NIIS untuk disebarkan ke kelompok radikal di Tanah Air. Karena keterbukaan itu, anggota sejumlah sel NIIS di Indonesia, seperti Jemaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jemaah Anshar Khilafah Daulah Nusantara (JAKDN), berasal dari latar belakang dan kelompok usia yang beragam. Anak muda, penganggur, pedagang, mantan santri, sarjana, pegawai negeri sipil dan swasta, penegak hukum, hingga perempuan menjadi anggota dua kelompok itu. Penggunaan media sosial sebagai sarana propaganda menjadi ciri khas era terorisme jilid dua. Cara itu bisa memperluas wilayah jangkauan pengaruh NIIS. Berdasarkan data Global Terrorism Index 2016 yang dikeluarkan Institute for Economics and Peace (IEP), pada 2015, kelompok berafiliasi NIIS melakukan serangan teror di 28 negara. Jumlah serangan meningkat dibandingkan tahun 2014, hanya 13 negara. Transformasi jaringan Setelah aksi teror di Jalan Thamrin, Jakarta, 14 Januari lalu, Densus 88 Anti Teror telah menggagalkan puluhan rencana aksi teror serta menangkap hampir 100 terduga teroris sepanjang 2016. Dari penangkapan itu, terungkap pola perkembangan kelompok teroris di Indonesia. Aksi teror NIIS di negeri ini didominasi para residivis, tetapi sejumlah aksi juga dilakukan oleh “orang” baru (pemuda dan perempuan) dengan metode baru pula, yakni secara tunggal atau lone wolf. Ini terlihat dari aksi teror yang dilakukan IAH (17) di Gereja Katolik Santo Yosep, Medan, Sumatera Utara, 28 Agustus; SA (22) yang menyerang tiga polisi di Cikokol, Tangerang, Banten, Oktober lalu; dan RPW (23) yang merencanakan aksi teror di Majalengka, Jawa Barat, November. Anak-anak muda ini mampu melakukan aksi tunggal yang dipersiapkan melalui dunia maya. Terkait fenomena itu, Marc Sageman dalam Leaderless Jihad (2008) menjelaskan, anak muda merasa setara dan menemukan tempat “aman” karena mampu berhubungan secara virtual dengan orang yang memiliki ketertarikan sama. Interaksi itu, lanjut Sageman, menjadi pemicu utama lahirnya penyendiri (loners) yang selanjutnya menjadi pelaku teror tunggal (lone wolves). “Melalui kesendirian itu, mereka menciptakan bom dan keperluan aksi teror dari kamar mereka. Mereka menciptakan gerakan radikal tanpa pemimpin dan organisasi,” tulis Sageman. Dengan komunikasi virtual pula, NIIS menyiapkan perempuan pelaku teror. Pada pekan kedua Desember, Densus 88 Anti Teror menangkap DNY, APM, TS alias UA, dan IP. Mereka adalah perempuan-perempuan yang disiapkan menjadi pengantin untuk aksi teror akhir tahun. Meskipun berada dalam satu jaringan, mereka belum pernah bertemu. Komunikasi hanya melalui media sosial. Selain itu, di masa mendatang, Indonesia juga terancam aksi teror dari ratusan warga Indonesia yang kembali dari Suriah. IEP melansir, sekitar 200 WNI telah bergabung dengan NIIS di Suriah pada 2014-2015. Sejak akhir 2015, sebagian telah kembali ke Tanah Air. Transformasi pelaku dan metode teror itu tak lepas dari instruksi pimpinan NIIS di Suriah. Bahrun Naim, Bahrumsyah, dan Salim Mubarak at-Tamimi alias Abu Jandal menjadi pemegang komando NIIS atas berbagai rencana teror di Indonesia. Didukung Aman, mereka memerintahkan anggotanya melakukan aksi amaliyah di dalam negeri. Ketiganya berambisi memimpin Katibah Nusantara, sayap NIIS di Asia Tenggara. Padahal, pada pertengahan 2016, NIIS telah menobatkan Abdullah al-Filipini alias Isnilon Totoni Hapilon sebagai pemimpin Katibah Nusantara. Abdullah adalah pemimpin salah satu jaringan kelompok Abu Sayyaf di Filipina selatan. Kontra ideologi Untuk menangkal derasnya penyebaran ideologi radikal, langkah yang paling tepat ialah melakukan kontra ideologi di tempat yang menjadi wadah perjuangan kelompok tersebut, seperti media sosial. Pancasila adalah pilihan ideologi terbaik untuk meredam ancaman radikalisme. Selama ini, kontra ideologi itu sangat minim. Akibatnya, banyak anak muda yang mendominasi penggunaan media sosial mudah terpapar ideologi radikal. Oleh karena itu, sinergi semua elemen bangsa, mulai dari pemerintah, organisasi kemasyarakatan, hingga anggota masyarakat, diperlukan untuk menyebarluaskan pemahaman Pancasila. Bukan sekadar teks, melainkan juga implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Era Terorisme 2.0 masih akan terus berkembang di Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. Kesungguhan pemerintah melakukan kontra ideologi, kesigapan aparat penegak hukum, dan peran serta masyarakat akan menjadi penentu seberapa besar kelompok teroris mampu berkembang di Tanah Air. (MUHAMMAD IKHSAN MAHAR)   Sumber: nasional.kompas.com