“Namun saat itu disampaikan oleh pihak dinas terkait bahwa jika permintaan tersebut dipenuhi, maka proses administrasi harus diulang kembali dari awal,” jelasnya.

Menurutnya, kekhawatiran yang sempat disampaikan dalam forum tersebut justru kini terjadi di lapangan.

Lahan sagu yang selama ini menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat telah diratakan menggunakan alat berat.

“Sekarang malah digarap. Lahan yang seharusnya tidak boleh disentuh justru ikut digusur,” katanya.

Berdasarkan pantauan di lokasi, hamparan tanaman sagu yang sebelumnya produktif kini dalam kondisi rusak dan rata dengan tanah akibat aktivitas land clearing.

Sementara itu, awak media telah mencoba mengonfirmasi Kepala Desa Pekaka, Hatta, terkait keterlibatan pemerintah desa dalam perizinan dan administrasi penggunaan lahan tersebut. Namun hingga berita ini diterbitkan, yang bersangkutan belum memberikan keterangan.

“Saya baru sampai rumah, tunggu saya mandi dan makan dulu, nanti saya telepon balik,” ujarnya singkat sebelum mengakhiri sambungan telepon.