HARIANMEMOKEPRI.COM – Kepala Desa Belungkur, Kecamatan Lingga Timur, Aref Rafandi, meminta pemerintah dan aparat keamanan memberikan perhatian serius terhadap kondisi perairan Tanjung Nyang Lansik dinilai rawan dimanfaatkan sebagai jalur aktivitas ilegal karena minimnya pengawasan.

Menurut Aref, kawasan berada di ujung timur Pulau Lingga tersebut kerap dilintasi kapal-kapal cepat tanpa identitas atau yang dikenal masyarakat sebagai speed hantu.

Kapal-kapal itu disebut sering singgah di sekitar perairan Tanjung Nyang Lansik ketika cuaca buruk sebelum melanjutkan perjalanan.

“Sudah sering masyarakat melihat kapal-kapal cepat melintas di wilayah ini. Bahkan sebelumnya pernah ada aktivitas bongkar muat minuman keras di kawasan perairan tersebut,” ujar Aref kepada Harianmemokepri.com, Rabu (15/7/2026).

Secara geografis, Tanjung Nyang Lansik berada di kawasan strategis yang berbatasan dengan jalur pelayaran menuju Laut Natuna Utara, Laut Cina Selatan, hingga perairan Kepulauan Bangka Belitung.

Letaknya yang jauh dari pusat keramaian membuat kawasan tersebut dinilai memiliki tingkat kerawanan yang cukup tinggi.

Untuk mengantisipasi berbagai potensi pelanggaran hukum di wilayah tersebut, Aref mengaku telah beberapa kali mengusulkan pembangunan pos pengawasan perairan maupun pos TNI Angkatan Laut di Desa Belungkur.

Menurutnya, keberadaan pos pengamanan permanen akan memperkuat pengawasan terhadap wilayah perairan sekaligus memberikan rasa aman bagi masyarakat pesisir.

“Saya pernah mengusulkan agar dibangun pos penjagaan perairan atau pos Angkatan Laut di wilayah kami. Tujuannya untuk meminimalisir aktivitas ilegal dan meningkatkan pengawasan terhadap wilayah perairan yang cukup luas ini,” katanya.

Selain dugaan aktivitas penyelundupan, Aref mengungkapkan masyarakat juga beberapa kali didatangi orang-orang tidak dikenal yang datang dari arah laut pada malam hari.

Sebagian dari mereka mengaku sebagai awak kapal yang mengalami persoalan dengan nakhoda atau rekan kerjanya.

Ia menuturkan, pernah ada seseorang yang meminta perlindungan kepada warga setelah mengaku menjadi korban penganiayaan di atas kapal.

Namun karena keterbatasan akses komunikasi, pemerintah desa hanya dapat menyarankan agar persoalan tersebut diselesaikan melalui nakhoda kapal.

Tak hanya itu, Aref juga mengaku pernah menerima laporan mengenai orang asing datang ke permukiman warga sambil membawa senjata tajam saat berbelanja di warung.

“Kejadian seperti ini tentu membuat masyarakat khawatir. Bagaimana jika suatu saat terjadi tindak kriminal yang lebih serius. Karena itu saya menilai wilayah kami termasuk daerah yang rawan dan perlu perhatian khusus,” ujar Aref.

Selain rawan terhadap dugaan aktivitas ilegal, perairan Tanjung Nyang Lansik juga dikenal memiliki tingkat risiko kecelakaan laut yang tinggi, terutama saat musim angin selatan yang disertai gelombang besar.

Atas berbagai kondisi tersebut, Pemerintah Desa Belungkur berharap pemerintah daerah, aparat penegak hukum, TNI AL, dan instansi terkait dapat meningkatkan patroli serta pengawasan di kawasan perairan tersebut.

Pembangunan pos pengamanan permanen juga dinilai menjadi kebutuhan mendesak guna menjaga keamanan wilayah sekaligus memberikan rasa aman bagi masyarakat.

“Kami berharap ada solusi nyata dari pihak yang berwenang agar masyarakat merasa lebih aman dan aktivitas mencurigakan di wilayah perairan ini dapat diminimalisir,” tutup Aref Rafandi.