Air yang telah diangkut kemudian dijual kepada warga dengan harga sekitar Rp20 ribu per drum. Namun, karena keterbatasan pasokan, setiap rumah tangga rata-rata hanya memperoleh satu hingga dua drum air per hari.
“Kami hitung sekitar Rp2 ribu per jeriken. Kalau satu drum penuh sekitar Rp20 ribu. Biasanya satu rumah hanya dapat satu atau dua drum sehari karena airnya juga terbatas,” katanya.
Helkimansyah menyebutkan, keberadaan pengangkut air sangat membantu warga. Sebab, tanpa adanya pasokan tersebut, masyarakat akan semakin kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan minum dan memasak.
“Kalau tidak ada yang mengangkut air seperti ini, warga tidak punya air bersih untuk minum dan memasak. Mau tidak mau harus dibeli,” tambahnya.
Kondisi tersebut juga dirasakan oleh masyarakat yang bekerja sebagai nelayan. Setelah seharian mencari nafkah di laut, mereka masih harus memikirkan ketersediaan air bersih untuk kebutuhan keluarga.
“Tingkat kesulitannya paling dirasakan nelayan. Setelah seharian melaut, mereka masih harus memikirkan bagaimana mendapatkan air bersih. Akhirnya membeli air menjadi pilihan yang terpaksa dilakukan setiap hari,” ungkapnya.
Warga berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian serius terhadap persoalan tersebut dan menghadirkan solusi jangka panjang.
Masyarakat Dusun II Senempek berharap tidak lagi bergantung pada pasokan air dari wilayah lain setiap kali musim kemarau tiba.
Krisis air bersih yang kembali terjadi tahun ini menunjukkan bahwa persoalan tersebut masih menjadi salah satu kebutuhan mendasar yang harus segera dicarikan solusi permanen bagi masyarakat Dusun Senempek.

