“Hampir 20 tahun masyarakat hidup dengan kondisi jalan yang jauh dari kata layak, namun harapan agar akses yang aman dan memadai dapat terwujud tidak pernah padam,” ujar Jumardi.
Menurut Jumardi, kerusakan jalan tidak hanya menghambat aktivitas masyarakat, tetapi juga telah menimbulkan sejumlah kecelakaan.
“Sudah banyak warga yang jatuh dari sepeda motor karena kondisi jalan yang licin saat hujan. Bahkan sebelumnya pernah ada warga yang terjatuh ke jurang ketika berusaha mencari jalur yang lebih aman untuk dilalui. Ini bukan lagi sekadar persoalan kenyamanan, tetapi sudah menyangkut keselamatan masyarakat,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, selama ini warga berupaya mempertahankan akses jalan melalui gotong royong dan perbaikan secara swadaya.
Namun, kemampuan masyarakat sangat terbatas untuk menangani kerusakan yang membutuhkan penanganan permanen.
Jumardi menegaskan, masyarakat tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya menginginkan akses jalan yang layak agar anak-anak dapat bersekolah dengan aman, masyarakat lebih mudah memperoleh pelayanan kesehatan, serta roda perekonomian desa dapat berjalan lebih baik.
“Kami hanya ingin jalan yang layak agar masyarakat bisa beraktivitas dengan aman, anak-anak dapat menempuh pendidikan dengan nyaman, dan warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan tidak lagi kesulitan melewati jalan yang rusak. Hampir 20 tahun kami menunggu, dan hingga hari ini harapan itu masih tetap kami jaga,” katanya.
Atas nama masyarakat Dusun II Serteh, Jumardi berharap Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau maupun pemerintah pusat dapat segera memberikan perhatian terhadap kondisi infrastruktur di wilayah mereka.

