Hasil panen pertama yang didapatkan pada pertengahan tahun lalu tidak dijual ke supermarket mewah, melainkan dibagikan secara gratis kepada puluhan keluarga kurang mampu di wilayah pemukiman sekitar kebun.
Pengalaman membagikan bahan pangan segar hasil keringat sendiri memberikan kepuasan batin yang jauh melebihi nominal gaji bulanan yang biasa ia terima saat masih bekerja di gedung pencakar langit.
Keberhasilan sistem pembagian pangan ini menginspirasi beberapa pengusaha lokal untuk menyalurkan dana bantuan sosial guna memperluas jangkauan kebun komunitas ke beberapa titik wilayah perkotaan lainnya.
Pendidikan Hijau di Tengah Perkotaan
Kebun kota ini tidak sekadar berfungsi sebagai penyedia bahan makanan sehat, tetapi juga berkembang menjadi pusat edukasi terbuka bagi anak-anak sekolah yang ingin mempelajari cara bercocok tanam secara langsung.
Setiap akhir pekan, puluhan anak berdatangan dengan antusias untuk memegang tanah, mengenali jenis-jenis cacing tanah yang bermanfaat, serta belajar merawat bibit tanaman buah yang baru tumbuh dari pot daur ulang.
Para ibu rumah tangga setempat juga mendapatkan pelatihan berkala mengenai tata cara mengolah sampah organik rumah tangga agar tidak menimbulkan bau menyengat serta bisa dimanfaatkan sebagai pupuk cair berkualitas tinggi.
Pendekatan humanis yang diterapkan Maya terbukti efektif merobek sekat-sekat sosial antarwarga kompleks perkotaan yang sebelumnya cenderung individualistis dan jarang menyapa satu sama lain saat bertemu di jalanan.

