HARIANMEMOKEPRI.COM — Pernahkah anda mendengar tentang makanan seafood gonggong ? makanan tersebut berbentuk siput dengan memiliki cangkang yang keras dan hanya bisa didapatkan air laut sedang surut.

Semakin digemarinya gonggong sebagai menu lauk pauk rumah tangga ataupun menu yang senantiasa tersedia dirumah makan khusus sea food,restoran dan hotel merupakan sebuah peluang usaha pengepulan gonggong dan masyarakat nelayan pesisir.

Siput gonggong atau gonggong yang sudah dikenal akan khasiatnya, merupakan jenis hasil laut bukan ikan yang ada diperairan Kabupaten Lingga dengan ciri memiliki cangkang keras seperti kerang dan sangat mudah didapatkan di hamparan berpasir, berbatu karang tipis dan berlumpur, sampai alur laut dangkal disepanjang perairan laut, Pesisir Kecamatan Lingga Utara.

Tanpa disadari penamaan siput ini jika di plesetkan kedalam Bahasa Inggris adalah “Makanan Laut”.

Jenis siput gonggong yang ada diperairan pesisir Lingga Utara ada berdada merah umumnya dilumpur tidak berpasir,dan berdada putih dilumpur berpasir.

Cara mendapatkannya juga beragam baik dengan berkarang pencarian ditempat terbuka, melakukan penyelaman dan dengan menggunakan pukat khusus gonggong

Menurut masyarakat nelayan yang menekuni bidang pengepulan gonggong dalam kondisi hidup ini dilakukan semata mata untuk memenuhi kebutuhan akan pasar terutama di Tanjungpinang dan Batam saja.

Biasanya permintaan akan pasar meningkat sehingga nilai jual gonggong naik drastis, terutama pada momen Imlek dan tahun baru. Namun menurut pengepul gonggong yang ada di pesisir Lingga Utara ini permintaan akan pasar yang meningkat ini, selama ini senantiasa terpenuhi, bahkan tak jarang mereka harus menghentikan aktifitas pembelian dari para Pencari gonggong.

Apalagi pada hari hari biasa sepanjang tahun, berimbas pada nilai jual gonggong hingga tidak laku dijual sama sekali. Untuk Kabupaten Lingga sendiri, kebutuhan akan gonggong sangat terbatas sama sekali.

Dengan berkurangnya permintaan pasar menjadikan peluang pengmbangbiakan siput gonggong di Kabupaten Lingga, sebagaimana penelitian akan punahnya siput gonggong di Pulau Bintan dan Batam yang juga merupakan penyedia siput gonggong di Kepri, namun tidak untuk di Kabupaten Lingga saat ini .

Sejauh pemanfaatan gonggong baik untuk skala, rumah tangga, rumah makan,hotel dan restoran hanya dalam kondisi hidup saja, belum ada terobosan makanan olahan siput gonggong yang lebih serius.

Hingga menjadi penghasilan tambahan, dari sekadar sebuah industri skala rumahan misalnya , dimasa melejitnya program program Ketahanan Pangan yang sudah dianggarkan Pemerintah Pusat untuk masing masing Desa.***