“Mari kita jaga semua dan kemudian kita dukung program ini yang sangat penting bagi bangsa ini. Saya harap bisa meneruskan, lebih membangun lagi tempat ini sehingga betul-betul menjadi bukti nyata,” pesannya.

Selain museum, Tito berharap Pulau Penyengat dapat semakin aktif dengan berbagai kegiatan.

Event yang digelar, menurutnya, perlu dikelola secara profesional sehingga kawasan tersebut memiliki aktivitas yang berkelanjutan.

“Bahasa itu penting, bahasa itu menjadi pemersatu. Saya berharap nanti dibuat event-event yang dikelola secara profesional,” tambahnya.

Dalam kunjungannya ke Kepri, Tito juga menyoroti perkembangan provinsi tersebut setelah 24 tahun berdiri.

Ia menyebut pembangunan di Kepri terus menunjukkan perkembangan, mulai dari infrastruktur, fasilitas pelayanan publik hingga sektor pariwisata.

Meski demikian, Tito mengakui pembangunan di sejumlah pulau terluar masih menghadapi tantangan dan belum secepat wilayah lainnya.

Menurutnya, Kepri memiliki modal geografis yang sangat strategis karena berada di kawasan Selat Malaka serta berdekatan dengan Singapura dan Johor.

“Kepri ini salah satu choke point dunia, lalu lintas terpadat dunia yaitu Selat Malaka. Inilah keuntungan besar dari Kepri, dekat dengan Singapura, dekat dengan Johor Baru,” tuturnya.

Potensi tersebut, kata Tito, perlu diikuti dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia agar masyarakat Kepri dapat mengambil peran dalam perkembangan daerahnya sendiri.

“Saya yakin ke depan Kepri akan lagi melompat karena posisi geografis dan SDA-nya. Tinggal bagaimana mengembangkan warga Kepri, SDM ditingkatkan supaya terdidik, terlatih, sehat, sehingga mereka bisa menjadi pemain di kampung sendiri,” ucap Tito.