SURABAYA – Ribuan anak dan orang tua memeriahkan kegiatan Pentas Pendidikan Agama Islam (PAI) SD Islam Al Mubarok Surabaya, Sabtu (7/11/2026). Acara yang berlangsung di Jalan Raya Gunung Anyar Sawah No. 19, Surabaya, tersebut sekaligus menyambut peringatan Hari Dongeng Nasional pada 28 November.

Kegiatan tahunan ini menjadi wadah bagi siswa untuk menampilkan kreativitas dan bakat, sekaligus memperkuat nilai keislaman, edukasi, serta silaturahmi antara sekolah dan orang tua.

Berbagai kegiatan digelar, mulai dari bazar wali murid, lomba mewarnai, nasyid, adzan, fashion show, hingga gerakan salat. Sejumlah peserta dari Taman Kanak-Kanak (TK) se-Surabaya turut mengikuti perlombaan tersebut.

Siswa Tampilkan Seni dan Kreativitas

Pentas PAI semakin semarak dengan penampilan siswa SD Islam Al Mubarok dari kelas 1 hingga kelas 6. Beragam pertunjukan seni ditampilkan, di antaranya Sholawat Al-Banjari, Tari Saman, Qori Cilik, Tari Gambus, dan Tari Zapin.

Kehadiran pembawa acara cilik juga menambah kemeriahan. Para siswa menunjukkan keberanian dan kemampuan dalam memandu acara di hadapan peserta dan tamu undangan.

Nurul Hidayat mengaku bangga dengan antusiasme siswa dalam mengikuti kegiatan tersebut. Ia menilai semangat anak-anak menjadi kebahagiaan tersendiri bagi seluruh pihak yang terlibat.

“Saya sangat bangga melihat antusiasme anak-anak dalam kegiatan Pentas PAI dan menyambut Hari Dongeng Nasional tahun ini. Persiapan yang dilakukan juga luar biasa. Semangat anak-anak menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami,” ungkapnya.

Kepala Sekolah Apresiasi Dukungan Orang Tua

Kepala SD Islam Al Mubarok Surabaya, Dwi Heri Murtiningsih, mengatakan Pentas PAI merupakan agenda rutin tahunan yang bertujuan mengembangkan potensi, kreativitas, keberanian, serta karakter religius siswa.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada orang tua, guru, karyawan, dan seluruh siswa yang telah berpartisipasi dalam menyukseskan kegiatan tersebut.

“Kegiatan ini kami adakan setiap tahun. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada orang tua wali murid yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan kali ini. Terima kasih juga kepada seluruh guru, karyawan, serta siswa dan siswi yang telah bekerja sama menyukseskan acara ini,” tutur Dwi Heri Murtiningsih.

Kak Harris dan Boneka Ayis Hibur Ribuan Anak

Momen yang paling dinantikan dalam kegiatan tersebut adalah penampilan pendongeng anak nasional, Harris Rizki Akhiruddin atau yang dikenal sebagai Kak Harris, bersama boneka Ayis.

Kehadiran keduanya berhasil menarik perhatian anak-anak dan orang tua. Melalui gaya mendongeng yang interaktif, humoris, dan edukatif, Kak Harris menyampaikan cerita yang menghibur sekaligus mengandung pesan moral.

Interaksi antara Kak Harris dan Ayis mengundang gelak tawa penonton. Tingkah laku dan ucapan lucu boneka tersebut membuat anak-anak larut dalam suasana cerita.

Salah satu siswi, Adinda Rialisa Putri, mengaku senang menyaksikan penampilan Kak Harris dan Ayis.

“Boneka Ayis sangat lucu. Saya gemas melihat tingkah lakunya dan perkataan-perkataannya yang lucu,” ungkap Adinda.

Antusiasme juga disampaikan Ahmad Faza Sidqul Aziz Yusuf yang berharap pendongeng tersebut kembali mengunjungi sekolahnya.

“Kak Harris dan Ayis tidak boleh pulang. Harus tetap di sekolah. Suatu saat Kak Harris dan Ayis harus kembali lagi ke sekolah,” ujarnya dengan penuh semangat.

Penampilan tersebut menunjukkan bahwa dongeng masih menjadi media yang menarik bagi anak-anak untuk menerima pesan pendidikan dan nilai moral melalui cerita yang menyenangkan.

Bagian dari Road Show Mendongeng Nasional

Kunjungan Kak Harris ke SD Islam Al Mubarok Surabaya merupakan bagian dari rangkaian road show mendongeng di sejumlah kota di Indonesia.

Selain Surabaya, agenda tersebut mencakup Banjarmasin, Yogyakarta, Semarang, Jakarta, dan Bekasi.

Kegiatan ini menjadi upaya memperkenalkan dongeng sebagai media pendidikan karakter, pengembangan imajinasi, pembentukan kebiasaan positif, serta penanaman nilai moral bagi generasi muda.

Pentas PAI dan penyambutan Hari Dongeng Nasional tersebut memadukan pendidikan agama, seni, perlombaan, dan literasi dalam satu kegiatan yang menyenangkan.

Melalui kegiatan ini, sekolah berharap kreativitas, keberanian, karakter religius, serta budaya literasi anak-anak semakin berkembang. Kolaborasi antara sekolah, guru, orang tua, dan pegiat literasi dinilai penting dalam menciptakan pengalaman pendidikan yang bermakna.