Layar panggung megah berhias ribuan lampu sorot kerap kali menyilaukan mata kita hingga lupa bahwa ada perjuangan sunyi yang terjadi di balik riuhnya tepuk tangan penonton.

Banyak seniman bertalenta di Tanah Air yang harus melewati jalan berliku serta memutar balik arah hidup mereka demi menemukan makna sejati dari proses berkarya.

Perjalanan spiritual mendalam ini terwujud secara nyata dalam keputusan seorang produser musik senior yang memilih meninggalkan panggung gemerlap ibu kota pada awal tahun lalu.

Keputusan berani tersebut diambil setelah dirinya menyadari bahwa kebahagiaan sejati seorang kreator tidak hanya diukur dari jumlah penjualan tiket konser atau penghargaan bergengsi semata.

Pria yang pernah memproduseri belasan album terlaris ini mantap mengalihkan fokus hidupnya untuk membangun sebuah padepokan seni independen di kawasan pelosok Kulon Progo.

Lingkungan pedesaan yang tenang dan asri memberikan ruang bernapas baru bagi pikirannya yang selama puluhan tahun terkuras oleh ketatnya persaingan industri hiburan komersial.

Menemukan Kembali Arah dan Kedamaian

Langkah drastis untuk keluar dari lingkaran kemewahan industri populer itu tentu saja mengundang beragam pertanyaan heran dari para rekan sejawat serta pengamat musik nasional.

Keberanian mendengarkan bisikan hati nurani telah membawanya pada sebuah komitmen baru yang dirasa jauh lebih berdampak nyata bagi pengembangan potensi masyarakat pedesaan.

Di tengah kerimbunan rumpun bambu dan pepohonan hijau yang rimbun, sebuah studio rekaman ramah lingkungan kini berdiri kokoh mengandalkan bahan dasar kayu bekas tempatan.