Pelari jarak jauh asal Lombok Timur bernama Rian Hidayat terus melangkah membelah jalanan beton perkotaan yang panas membakar telapak kakinya setiap kali matahari mencapai puncak tertinggi di ufuk timur.

Pemuda berusia dua puluh empat tahun ini pernah menghabiskan masa kecilnya mengumpulkan plastik bekas di area pasar tradisional demi membantu ibunya membeli beras harian serta menyewa sepatu lari bekas yang ukurannya sering kali terlalu besar.

Tekad baja yang tumbuh di tengah kemiskinan membuat langkah kakinya semakin cepat saat melintasi lintasan tanah berbatu tanpa pernah mengeluhkan kondisi fisiknya yang tampak jauh lebih kurus daripada atlet pendatang baru lainnya.

Langkah Awal di Atas Tanah Berbatu

Pelatih tempatan yang pertama kali melihat potensi Rian menyadari bahwa kecepatan alami anak muda ini muncul dari kebiasaannya berlari mengejar angkutan umum saban pagi agar tidak terlambat menghadiri jam pelajaran di sekolah menengah pertama.

Tanpa bantuan peralatan olahraga yang memadai serta asupan nutrisi protein tinggi seperti standar atlet nasional, Rian secara konsisten mencatatkan waktu tercepat pada ajang kejuaraan daerah tingkat pelajar yang diselenggarakan di ibu kota kabupaten.

Kemenangan demi kemenangan skala lokal tersebut tidak lantas membuat hidupnya berubah secara instan karena dia masih harus bekerja membersihkan warung makan setelah menyelesaikan sesi latihan sore yang sangat menguras energi fisik tubuhnya.

Momen krusial terjadi sewaktu musibah banjir besar menerjang pemukiman tempat tinggalnya sehingga memusnahkan seluruh koleksi piala sederhana serta sepatu lari satu-satunya yang selama ini dia rawat dengan cermat menggunakan minyak kelapa.