Kejadian pahit itu justru menjadi titik balik terbesar yang memicu keberaniannya mendaftarkan diri pada ajang seleksi nasional di Jakarta menggunakan uang pinjaman dari kakeknya yang bekerja sebagai buruh tani harian.
Menembus Batas Kemampuan Diri
Kehadirannya di ibu kota dengan pakaian olah raga lusuh sempat dipandang sebelah mata oleh banyak peserta lain yang datang membawa perlengkapan canggih beserta tim pelatih pribadi yang mendampingi mereka sejak hari pertama seleksi.
Semangat membara di dalam dada memampukan Rian menembus garis finis terdepan pada ujian ketahanan fisik sepuluh ribu meter sekaligus memecahkan rekor waktu kualifikasi yang telah bertahan selama delapan tahun berturut-turut.
Manajemen pelatnas segera memasukkan namanya ke dalam skuad utama pembinaan jangka panjang guna menghadapi rangkaian kompetisi maraton tingkat internasional di kawasan Asia Tenggara maupun benua Eropa.
Proses penyesuaian gaya hidup dari lingkungan perdesaan menuju kehidupan atlet profesional menuntut kedisiplinan tinggi dalam mengatur pola makan, jam tidur malam, serta penggunaan teknologi pemantau detak jantung yang sebelumnya belum pernah dia lihat.
Rian terpaksa mengisolasi diri dari godaan media sosial dan pergaulan perkotaan demi fokus penuh memperbaiki teknik pernapasan serta menjaga kestabilan kecepatan lari pada medan jalan yang memiliki kemiringan ekstrem.
Buah Manis Ketekunan Tanpa Batas
Kerja keras tanpa henti tersebut akhirnya membuahkan hasil manis ketika bendera Merah Putih berkibar paling tinggi di ajang maraton internasional yang berlangsung di Tokyo pada pertengahan musim gugur tahun ini.

