Ratusan penikmat musik dari berbagai daerah mulai memadati kawasan Taman Kota GBK Jakarta sejak pagi hari untuk merayakan perpaduan nada, seni visual, serta kuliner lokal dalam ajang tahunan yang paling dinantikan musim ini.
Suasana festival kali ini terasa jauh lebih segar karena pihak penyelenggara berkomitmen menerapkan konsep ramah lingkungan secara penuh tanpa mengurangi kenyamanan maupun keseruan para pengunjung yang hadir.
Pernahkah Anda membayangkan sebuah panggung konser megah yang seluruh kebutuhan daya listriknya disuplai sepenuhnya dari panel surya terpadu serta instalasi daur ulang limbah organik di sekitar area acara?
Inovasi ramah lingkungan tersebut terbukti menjadi daya tarik utama yang berhasil memukau ribuan pengunjung sejak gerbang panggung dibuka secara resmi pada Jumat sore yang cerah ini.
Memeluk Musik Tanpa Jejak Karbon
Berjalan mengitari sudut-sudut lapangan festival memberikan pengalaman sensorik yang unik melalui deretan stan interaktif yang memadukan pertunjukan musik akustik intim dengan pameran kerajinan tangan berbahan daur ulang.
Para penampil papan atas tanah air memanjakan telinga audiens lewat aransemen lagu yang digubah khusus menggunakan instrumen tradisional bambu yang dipadukan secara harmonis dengan sentuhan musik elektronik modern.
Penonton yang memadati area rumput terbuka terlihat sangat menikmati alunan melodi sembari lesehan di atas kain tenun sutra buatan perajin lokal yang disediakan gratis oleh panitia pelaksana.
Tidak sedikit pengunjung muda yang datang membawa botol minum sendiri demi memanfaatkan stasiun isi ulang air gratis yang tersebar secara merata di hampir setiap sudut area pertunjukan.

