Ketika dering notifikasi telepon seluler tanpa henti menguras energi emosional masyarakat perkotaan, menyusuri hamparan savana luas di Sumba menjadi pilihan liburan pemulihan jiwa yang semakin banyak diminati para pelancong.

Musim kemarau pada awal Oktober ini mengubah bukit-bukit kapur di kawasan Wairinding menjadi hamparan permadani keemasan yang menakjubkan bagi siapa saja yang merindukan ketenangan lanskap alam terbuka.

Gulungan perbukitan hijau yang perlahan memudar menjadi warna jerami membentang sejauh mata memandang, menciptakan bayangan siluet megah saat sinar matahari sore perlahan menghilang di garis cakrawala.

Suasana hening yang mendominasi kawasan pedalaman wilayah barat pulau ini berhasil menawarkan pengalaman liburan lambat yang kontras dengan ritme kehidupan kota besar yang penuh ketergesaan harian.

Banyak pekerja kreatif dari Jakarta sengaja meluangkan waktu beberapa hari untuk mematikan perangkat digital mereka demi menikmati kesunyian padang rumput yang menenangkan pikiran.

Bunyi angin kering yang menggesek dedaunan ilalang menjadi satu-satunya latar suara yang mendominasi lanskap alam, menggantikan hiruk-pikuk klakson kendaraan serta deru mesin perkotaan.

Menjelajahi Jejak Kebudayaan Megalitikum yang Masih Hidup

Perjalanan berlanjut ke Kampung Adat Prai Ijing, tempat rumah-rumah tradisional bertatap ilalang menjulang tinggi memamerkan struktur arsitektur kuno yang tetap bertahan melintasi berbagai pergantian zaman.

Warga lokal menyambut setiap kedatangan pengunjung dengan senyuman hangat seraya menawarkan sirih pinang sebagai bentuk kehormatan adat yang telah diwariskan turun-temurun selama ratusan tahun.