“Pemko merespons dengan cepat. Program seperti ini tentu tidak dapat hanya dikerjakan pemerintah sendiri, tetapi perlu kolaborasi dengan pihak swasta,” ungkapnya.

Senada dengan itu, Ketua Yayasan LooLa Komunitas, Jaya Putra, berharap target pembangunan 300 unit Wet SWG dapat tercapai melalui dukungan dan kolaborasi berkelanjutan.

Ia mendorong Pemko Tanjungpinang menjalin kerja sama dengan perusahaan melalui program tanggung jawab sosial atau Corporate Social Responsibility (CSR), sehingga pembangunan fasilitas sanitasi dapat diperluas ke wilayah lain yang membutuhkan.

“Untuk mencapai target 300 unit, mudah-mudahan Pemko bisa meneruskan melalui kolaborasi dengan CSR. Jadi lebih kepada replikasi,” ujarnya.

Program Wet SWG juga memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk terlibat langsung dalam pembangunan fasilitas sanitasi di rumah masing-masing.

Warga diberikan edukasi mengenai proses pembuatan sistem tersebut, sekaligus dilibatkan dalam pengerjaan pembangunan dengan mendapatkan upah.

Pendekatan ini diharapkan tidak hanya membantu masyarakat memperoleh fasilitas sanitasi yang lebih layak, tetapi juga meningkatkan pengetahuan dan keterampilan warga dalam menerapkan sistem pengolahan limbah rumah tangga.

Melalui program tersebut, kolaborasi antara pemerintah, lembaga pelaksana, pihak swasta, dan masyarakat diharapkan mampu memperluas akses sanitasi yang layak di kawasan pesisir Tanjungpinang.

Dengan target 300 unit pada tahun ini, Wet SWG diharapkan menjadi salah satu upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus mendukung terwujudnya lingkungan permukiman pesisir yang lebih sehat.