“Kita bisa mengolaborasikan apa yang bisa kita ambil manfaatnya dari kegiatan ini. Bagaimana kolaborasi ini bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya.

Founder and CEO Safe Water Gardens, Dr. Marc van Loo, menjelaskan bahwa persoalan sanitasi di kawasan permukiman atas air memerlukan penanganan khusus.

Pasalnya, sebagian warga masih menggunakan sistem pembuangan limbah toilet langsung mengarah ke perairan.

Untuk menjawab persoalan tersebut, Wet SWG dikembangkan sebagai sistem sanitasi disesuaikan dengan karakteristik rumah di atas air.

Sistem ini memiliki dua komponen utama, yaitu kamar mandi yang layak dan fasilitas pengolahan limbah yang ditempatkan di bawah kamar mandi.

“Wet SWG terdiri dari dua bagian. Pertama, kamar mandi yang layak. Kedua, sistem Wet SWG di bawah kamar mandi yang menampung dan mengolah limbah toilet,” jelas Marc.

Pada 2026, pembangunan Wet SWG di Kota Tanjungpinang ditargetkan mencapai 300 unit.

Sebagai tahap awal, sebanyak 100 unit direncanakan dibangun, masing-masing 30 unit di Kelurahan Senggarang dan 70 unit di Kelurahan Kampung Bugis.

Sebelumnya, sekitar 93 unit Wet SWG telah dibangun di wilayah Senggarang.

Marc mengapresiasi dukungan Pemko Tanjungpinang dalam pelaksanaan program tersebut.

Ia menilai, keterlibatan pemerintah daerah sangat penting untuk memperluas jangkauan program, terutama melalui kerja sama dengan sektor swasta.

Menurutnya, persoalan sanitasi masyarakat tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan pemerintah, melainkan membutuhkan kontribusi berbagai pihak.