Para pendaki yang melintasi kawasan hutan lindung Pegunungan Malabar kerap melaporkan fenomena aneh berupa dentuman halus dan gumaman mirip paduan suara yang bergema di antara pepohonan purba.
Suara misterius tersebut biasanya muncul menjelang matahari terbenam ketika kabut tebal mulai turun membungkus lembah dan suhu udara merosot drastis hingga mencapai belasan derajat Celsius.
Masyarakat lokal yang bermukim di sekitar perkebunan teh kuno meyakini bahwa gumaman merdu tersebut merupakan wujud sapaan dari para penjaga pegunungan yang telah menghuni wilayah tersebut sejak berabad-abad lalu.
Sejumlah peneliti dari divisi akustik lingkungan sengaja mendirikan pos pengamatan independen guna merekam spektrum frekuensi gelombang bunyi yang melintasi celah tebing batu curam selama beberapa pekan.
Hasil rekaman alat sensor presisi tinggi menunjukkan adanya gelombang infrasonik berfrekuensi sangat rendah yang secara teori tidak mampu ditangkap oleh indra pendengaran manusia secara jernih.
Meskipun fenomena fisik tersebut dapat dijelaskan melalui analisis pemantulan getaran angin pada relief jurang yang terjal, sensasi psikologis yang dirasakan para saksi mata tetap menyisakan teka-teki mendalam.
Jejak Geologis dan Pantulan Angin Malam
Karakteristik geografi Lembah Malabar yang dihimpit tebing-tebing batu basal tebal menciptakan koridor alami yang mampu memantulkan arus udara dingin dari puncak gunung dengan kecepatan cukup tinggi.
Gesekan antara hembusan angin malam yang kencang dan dinding-dinding gua tersembunyi menghasilkan efek akustik unik yang mirip seperti suara alat musik tiup raksasa di tengah kesunyian malam.

