HARIANMEMOKEPRI.COM – Nama Raminto (70), Ketua RT di Dusun II Desa Bukit Harapan, Kecamatan Lingga Utara, mendadak menjadi perhatian publik setelah aksinya menambal jalan rusak secara swadaya viral di media sosial.

Di balik sosok sederhana sehari-hari terlihat membawa cangkul dan memperbaiki jalan berlubang, tersimpan kisah pengabdian panjang kepada masyarakat selama ini jarang diketahui banyak orang.

Pria yang akrab disapa Pak Lek Raminto itu bahkan pernah menghadapi tudingan tidak menyenangkan.

Ia sempat dipanggil pihak desa setelah muncul isu dugaan pungutan liar (pungli) terkait sebuah ember diletakkan di lokasi dirinya melakukan perbaikan jalan.

Raminto menjelaskan, ember tersebut bukan atas inisiatif dirinya. Menurutnya, sejumlah pengguna jalan merasa terbantu dengan upayanya memperbaiki ruas jalan provinsi yang rusak di kawasan Desa Bukit Harapan menyarankan agar ember tersebut diletakkan di lokasi pekerjaan.

“Warga yang lewat sendiri yang menyarankan supaya diletakkan ember. Mereka bilang kalau ada orang yang ingin membantu atau bersedekah silakan. Saya tidak pernah meminta uang kepada siapa pun,” ujar Raminto.

Meski sempat diterpa isu negatif, hal itu tidak membuat semangatnya surut. Hingga kini, Raminto masih rutin membersihkan lingkungan dan menambal jalan-jalan yang dinilai membahayakan keselamatan pengendara.

Aksi tulusnya pun menuai simpati dan apresiasi luas dari masyarakat. Berbagai komentar dukungan membanjiri media sosial setelah kisahnya diberitakan.

“Sehat terus tok. Berkat tok mobil kami lewat aman, jalan tak menjadi semak lagi,” tulis akun Facebook Rangga Buana.

Sementara itu, akun Felysia Astuti mengajak masyarakat untuk membantu Raminto secara sukarela.

“Bagi saudara-saudara yang lewat kalau ada rezeki tolonglah berbagi sedikit. Mau Rp2.000 atau Rp5.000 untuk tok yang menimbun jalan itu. Kasihan, kadang beliau tak peduli hujan atau panas, tetap membersihkan dan menambal jalan supaya tidak berlubang dan licin. Sehat-sehat tok,” tulisnya.

Di tengah pujian mengalir, sejumlah warganet juga menyoroti lambannya penanganan infrastruktur jalan oleh pemerintah.

“Percuma pak gubernur blusukan sampai ke mana-mana kalau jalan sepanjang jari tikus saja tidak mampu diselesaikan,” tulis akun Surrahman.

Senada, akun Harun menilai kondisi jalan tersebut kerap menjadi bahan pembicaraan saat momentum politik.

“Jalan itu memang model begitu, dijadikan sebagai topik untuk bahan kampanye,” tulisnya.

Kepala Dusun II Desa Bukit Harapan, Junaidi, mengatakan Raminto memang dikenal sebagai pribadi memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.

Menurutnya, apa yang dilakukan Raminto saat ini bukanlah hal baru. Selama bertahun-tahun, ia kerap membantu berbagai pekerjaan warga, mulai dari membersihkan pekarangan rumah hingga melakukan pekerjaan berat lainnya demi membantu sesama sekaligus memenuhi kebutuhan hidupnya.

“Pak Lek Raminto memang sosok yang luar biasa. Kepeduliannya terhadap lingkungan sangat tinggi. Beliau sering membantu warga dan tidak pernah pilih-pilih pekerjaan,” kata Junaidi kepada HarianMemoKepri.com, Selasa (9/6/2026).

Bahkan, karena dedikasi dan kedekatannya dengan masyarakat, Raminto pernah menjadi bahan gurauan warga yang mengusulkan agar dirinya menjabat sebagai Ketua RT seumur hidup.

Di usia yang telah memasuki 70 tahun, Raminto hidup bersama salah satu anaknya yang menyandang disabilitas. Meski berstatus duda, ia tetap bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidup.

Selain membersihkan pekarangan rumah warga dengan upah seadanya, ia juga sesekali mencari kayu di hutan ketika ada masyarakat yang membutuhkan.

Junaidi berharap viralnya kisah Raminto tidak hanya berhenti sebagai cerita inspiratif di media sosial, tetapi juga mampu membuka mata berbagai pihak terhadap kondisi jalan yang selama ini dikeluhkan masyarakat.

Menurutnya, ruas jalan yang berada di Desa Bukit Harapan merupakan akses penting yang menghubungkan masyarakat Kecamatan Lingga Utara dan Lingga Timur menuju pusat pemerintahan Kabupaten Lingga di Daik.

“Kami berharap ini menjadi perhatian bersama, terutama Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau. Jalan ini merupakan urat nadi masyarakat yang setiap hari digunakan untuk aktivitas ekonomi, pendidikan, dan pelayanan publik,” ujarnya.

Di tengah keterbatasan yang dimiliki, Raminto telah menunjukkan bahwa kepedulian tidak selalu harus menunggu kewenangan atau jabatan.

Dengan cangkul di tangan dan niat tulus membantu sesama, ia memberikan contoh nyata tentang arti pengabdian kepada masyarakat.

Sebuah pelajaran sederhana dari Bukit Harapan, bahwa ketika banyak orang memilih menunggu, Raminto memilih untuk bergerak dan berbuat.