HARIANMEMOKEPRI.COM – Kasus malaria kembali ditemukan di wilayah Tanjungpinang setelah beberapa hari terakhir terjadi peningkatan curah hujan.
Kondisi ini memicu kekhawatiran, mengingat daerah tersebut sebelumnya telah dinyatakan bebas malaria sejak tahun 2014.
Pihak Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan KB (Dinkes Dalduk dan KB) Tanjungpinang menjelaskan bahwa kemunculan kasus malaria saat ini tergolong jarang dan umumnya disebabkan oleh kasus relaps (kambuh) atau impor dari luar daerah.
“Kasus malaria biasanya terjadi karena relaps atau impor. Ketika ada kasus tersebut dan kebetulan terdapat nyamuk perantaranya, maka penularan bisa terjadi ke penduduk lain,” ujar Rustam melalui pesan WhatsApp, Sabtu (25/4/2026).
Rustam mengungkapkan, wilayah Senggarang dan Kampung Bugis memiliki banyak laguna atau rawa-rawa menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Anopheles, yakni vektor penyebar malaria.
Ia menambahkan, kondisi lingkungan di kawasan tersebut saat ini mengalami perubahan akibat aktivitas penimbunan untuk pembangunan infrastruktur, seperti jalan, yang berpotensi mengganggu habitat alami dan meningkatkan risiko penyebaran penyakit.
“Setiap aktivitas pembangunan atau intervensi lahan seharusnya disertai kajian lingkungan, termasuk dampak terhadap kesehatan. Karena intervensi sudah terjadi, maka langkah yang bisa dilakukan adalah mengurangi dampaknya,” jelas Rustam.
Sebagai upaya penanganan, Dinkes Dalduk dan KB Tanjungpinang bersama pihak kelurahan serta RT/RW setempat akan melakukan tindakan pengendalian jentik (anti larva) di area laguna.

