Sorot lampu panggung megah berdaya ribuan watt sering kali menyilaukan mata hingga menyembunyikan rasa lelah mendalam yang diidap para pelaku seni pertunjukan Tanah Air.

Ketika jadwal tur konser nasional menuntut performa tanpa henti sepanjang tahun, Aruna Saraswati memutuskan untuk mengambil langkah drastis dengan meninggalkan hiruk-pikuk ibu kota.

Keputusan berani tersebut diambil setelah dirinya mengalami kelelahan mental parah yang hampir menghancurkan kecintaannya pada dunia musik yang telah membesarkan namanya selama belasan tahun.

Ia memilih menepi ke sebuah desa tenang di kawasan kulon Kaliurang, tempat di mana suara gesekan daun bambu menggantikan bisingnya deru mesin kendaraan kota besar.

Di tanah seluas setengah hektar yang dikelilingi pepohonan rimbun tersebut, mantan penyanyi latar ini mendirikan sanggar musik ramah lingkungan khusus bagi para pencipta lagu muda.

Mengapa seorang bintang yang sedang berada di puncak popularitas justru memilih membagikan ilmu secara cuma-cuma ketimbang memupuk kekayaan pribadi melalui kontrak eksklusif label raksasa?

Mengubah Ruang Trauma Menjadi Oase Kreativitas

Jawaban atas pertanyaan tersebut terpancar dari senyum hangatnya saat menyambut puluhan anak muda yang datang membawa gitar akustik rakitan sendiri pada sore yang teduh itu.

Menurutnya, panggung komersial kerap menuntut kesempurnaan visual dan komersialisasi karya yang justru mengikis kejujuran emosional dalam setiap bait lagu yang diciptakan oleh seorang seniman.

Pengalaman pahit berjuang melawan depresi di tengah tekanan industri hiburan menggerakkan hatinya untuk menyediakan wadah aman bagi generasi penerus agar tidak mengalami nasib serupa.