Amsakar juga meminta camat dan lurah memperbarui data serta kondisi banjir di wilayah masing-masing secara akurat. Data tersebut akan menjadi dasar bagi dinas teknis dalam menyusun perencanaan dan penganggaran, sehingga penanganan dapat disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.
Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah Bengkong Swadebi, yang sebelumnya disorot setelah kendaraan terseret arus saat hujan berintensitas tinggi. Secara teknis, kawasan tersebut berada di dataran relatif rendah dan menjadi pertemuan aliran air dari tiga wilayah, dengan salah satu aliran terbesar berasal dari kawasan Cahaya Garden.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemko Batam dan BP Batam menyepakati pembangunan kolam retensi serta rumah pompa di bagian hilir. Kedua infrastruktur itu diharapkan mampu menampung dan mengendalikan aliran air secara lebih terintegrasi guna mengurangi risiko genangan maupun banjir.
Sementara itu, Li Claudia Chandra menekankan perlunya evaluasi berkala dan penyelarasan data dalam penanganan banjir. Menurutnya, perubahan kawasan permukiman membuat kondisi di lapangan terus berkembang sehingga data harus diperbarui untuk memastikan efektivitas penanganan yang telah dilakukan.
“Data awal yang dihimpun dari lapangan terus dinamis seiring berkembangnya kawasan permukiman. Karena itu, evaluasi terhadap titik yang sudah ditangani tahun lalu harus memastikan tempat tersebut benar-benar bebas banjir,” ujar Li Claudia.
Ia menambahkan, penanganan banjir di kawasan permukiman padat yang berada di wilayah cekungan akibat perkembangan pembangunan sebelumnya memerlukan proses dan intervensi teknis yang matang. Oleh sebab itu, evaluasi kondisi wilayah menjadi bagian penting dalam menentukan solusi yang tepat.

