Keriuhan lalu lintas Jakarta yang bising setiap pagi kini berganti menjadi simfoni desir angin dan aroma tanah basah setelah hujan di dataran tinggi Lembang.
Budi Santoso memilih meninggalkan posisi nyaman sebagai Manajer Pemasaran di sebuah perusahaan teknologi demi merawat lahan seluas dua hektar milik keluarganya yang lama terlantar.
Keputusan berani yang diambil lima tahun lalu tersebut sempat memicu keprihatinan mendalam dari kerabat dekat yang menganggap profesi bercocok tanam tidak menawarkan kepastian masa depan.
Anggapan miring masyarakat urban mengenai sektor agraris kerap membayangkan cangkul dan lumpur sebagai simbol kemiskinan yang sulit lepas secara finansial oleh generasi muda.
Namun lewat sentuhan teknologi irigasi tetes presisi dan pengolahan pupuk hayati mandiri, pemuda berusia tiga puluh lima tahun ini berhasil membuktikan kebalikannya dengan sangat meyakinkan.
Menghidupkan Kembali Tanah yang Mati
Kebun hidroponik terpadu yang didirikannya kini memanen tonan sayuran organik premium setiap bulan untuk menyuplai puluhan restoran terkemuka serta supermarket modern di ibu kota.
Perjalanan menuju keberhasilan ekonomi tersebut tentu tidak diraih secara instan tanpa melalui masa-masa kritis yang hampir merenggut seluruh modal tabungan sisa karier korporatnya.
Serangan hama kutu putih dan kegagalan panen pertama sempat menghabiskan dana puluhan juta rupiah dalam waktu kurang dari dua minggu pada awal musim tanam.
Pengalaman pahit tersebut justru mendorongnya untuk mempelajari pola ketahanan tanaman secara ilmiah melalui berbagai literatur internasional serta diskusi mendalam bersama para petani senior lokal.

