Di tengah hiruk-pikuk perkembangan teknologi yang bergerak begitu cepat, sebuah bengkel kecil di pinggiran Gunungkidul justru melahirkan karya ilmiah yang berhasil memukau para juri kompetisi inovasi internasional di Tokyo.

Pak Rahmad, seorang guru fisika sekolah menengah atas, mengumpulkan sisa-sisa komponen elektronik bekas dari pasar klithikan untuk merakit laboratorium robotika sederhana bagi para siswanya yang berbatasan dengan keterbatasan ekonomi.

Di tempat yang serba terbatas itulah ia bertemu dengan Gilang, seorang remaja yang sempat berniat berhenti sekolah demi bekerja sebagai juru parkir untuk membantu perekonomian keluarganya yang terhimpit.

Sentuhan dingin papan sirkuit bekas dan ketabahan sang guru perlahan meretas keputusasaan Gilang hingga mengubah rasa frustrasinya menjadi rasa ingin tahu yang sangat membara terhadap dunia pemograman.

Menyemai Harapan Lewat Sisa Komponen

Rahmad meyakini betul bahwa setiap anak memiliki potensi besar yang hanya membutuhkan sedikit dorongan serta media pemantik yang tepat tanpa harus membebani orang tua mereka dengan biaya pendidikan mahal.

Mereka menghabiskan waktu berjam-jam setiap sore setelah jam pelajaran usai untuk membedah komputer tua, memilah kabel yang masih berfungsi, dan mempelajari bahasa pemrograman secara swadaya melalui koneksi internet seadanya.

Gilang yang awalnya sama sekali tidak mengenal istilah kode komputer kini sanggup merancang sistem irigasi otomatis berbasis sensor tanah yang mampu membantu para petani lokal menghemat penggunaan air penyiraman.