Aroma tanah basah setelah hujan menyambut langkah kaki pengunjung di kawasan perbukitan Lembang ketika kabut tipis mulai turun menyelimuti hamparan hijau perkebunan sayur organik yang dikelola secara modern.
Pria berusia tiga puluh lima tahun bernama Bagas Prasetyo ini dahulunya menghabiskan sebagian besar waktunya di depan layar komputer sebagai seorang pengembang perangkat lunak pada sebuah perusahaan rintisan ternama di Jakarta.
Keputusan berani untuk meninggalkan posisi mapan di ibu kota diambil setelah dia menyadari potensi besar sektor pangan nasional yang belum digarap secara maksimal dengan pendekatan teknologi mutakhir.
Berbekal tabungan pribadi serta keberanian mengambil risiko besar, Bagas mulai menyewa lahan seluas setengah hektar yang berlokasi di tanah kelahirannya untuk membangun rumah kaca ramah lingkungan.
Inovasi Teknologi di Atas Lahan Hijau
Tantangan awal yang dihadapi tidaklah ringan karena sebagian besar petani senior setempat sempat meragukan metode penanaman hidroponik berbasis kecerdasan buatan yang hendak diterapkannya pada komoditas sayur premium.
Perangkat sensor pintar dipasang di setiap sudut ruangan kaca untuk memantau kelembapan udara, tingkat keasaman tanah, serta kebutuhan nutrisi tanaman secara konstan dan rinci setiap detiknya.
Sistem otomatisasi tersebut terhubung langsung dengan aplikasi telepon pintar milik Bagas sehingga memungkinkan pengawasan kondisi kebun dilakukan dari mana saja secara lebih efisien dan akurat.
Penerapan teknologi tepat guna ini terbukti mampu menghemat penggunaan air hingga enam puluh persen dibandingkan metode konvensional sekaligus meningkatkan produktivitas panen secara signifikan sepanjang tahun.

