“Wahai Syekh, engkau adalah seorang ulama yang terkenal alim nan zuhud di seantero negeri ini. Namun, gerangan apa yang membuat engkau menangisi alas kakimu yang hilang?”.
Mendengar pertanyaan muridnya, Bisyr tak lantas menjawab. Ia masih saja diam meratapi sesuatu yang sungguh berbeda dengan apa yang dilihat oleh muridnya. Sembari menghela napas ia berkata.
“Muridku, tangisanku sama sekali menyesali sandalku yang hilang. Melainkan aku menyesalkan akan diriku sendiri. Ya, tahukah engkau muridku, sesungguhnya aku sangat menyesal mengapa diriku membawa alas kaki yang menarik pandangan mata orang lain. Sehingga orang tersebut memberanikan diri maksiat kepada Allah dengan mencuri. Oh, aku begitu menyesal. Oleh sebabku, ia berani mendurhakai Allah subhanahu wata’ala.”
Sontak seluruh muridnya pun tertunduk malu. Ternyata pandangan luaran semata telah mengaburkan sifat takzim, hormat kepada guru. Akhirnya setelah kejadian itu, Bisyr pun tak berani lagi memakai alas kaki. Hingga di kalangan penduduknya ia pun diberi gelar al-hafi, orang yang tidak memakai alas kaki (nyeker).
Seperti itulah akhlak dari salafus salih, ulama terdahulu nan alim dan rajin beribadah. Mereka begitu pandai memalingkan nafsu amarah kepada pandangan penuh hikmah ilahiyah. Mereka tak mudah untuk marah dan menyalahkan keadaan. Sebaliknya mereka justru mensyukuri segala sesuatu yang terjadi sebagai takdir terindah utuk diambil hikmah, sari pati pelajaran kebijaksanaan.
Sumber : nu.or.id

