Ketika bising gemuruh klakson kendaraan di kawasan Sudirman mulai terasa mencekik ketenangan batinnya, Maya Paramita membuat keputusan nekat untuk menanggalkan jabatan mentereng sebagai analis keuangan papan atas.

Keputusan besar yang diambil pada pertengahan tahun 2022 tersebut mengharuskannya menukar setelan jas rapi dengan sepatu bot lumpur demi menggarap lahan seluas dua hektar di lereng Gunung Salak.

Masyarakat sekitar sempat memandang sebelah mata kehadiran wanita perkotaan ini karena mereka menganggap impian memulihkan hutan bambu liar sebagai pekerjaan sia-sia yang tidak mendatangkan keuntungan finansial.

Namun, niat tulus untuk menciptakan ruang pemberdayaan bagi perempuan desa memicu keberaniannya bertahan menembus berbagai rintangan cuaca serta keraguan warga lokal selama bulan-bulan pertama bermukim di sana.

Bambu hutan yang semula membusuk tanpa pemanfaatan kini berhasil disulap menjadi beragam perabot rumah tangga bernilai seni tinggi yang menembus pasar ekspor hingga ke kawasan Eropa Pasifik.

Menemukan Kedamaian di Antara Rimbun Bambu

Langkah awal Maya dimulai dengan mengumpulkan delapan ibu rumah tangga yang sebelumnya sama sekali tidak memiliki penghasilan mandiri untuk diajari teknik pengolahan serat tanaman secara ramah lingkungan.

Proses pengawetan bambu yang mereka terapkan menggunakan bahan alami seperti garam laut dan boraks cair tanpa menyentuh zat kimia berbahaya demi menjaga kelestarian tanah dan air tanah warga.

Tangan-tangan terampil kaum perempuan desa yang dahulu hanya terbiasa dengan urusan dapur kini dengan sigap menganyam sedotan, tempat lampu, hingga wadah makanan yang estetis serta tahan lama.