Bayangkan ketika sebuah peradaban megah yang mampu membangun mahakarya arsitektur seluas puluhan hektar mendadak hilang tanpa jejak dari lembaran sejarah Jawa Tengah.

Para peneliti sejarah sezaman hingga saat ini terus berusaha memecahkan teka-teki mengenai hilangnya pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno secara mendadak pada abad kesepuluh masehi.

Banyak arkeolog menduga bahaya dahsyat dari letusan Gunung Merapi menjadi faktor utama yang memaksa seluruh penduduk mengungsi jauh ke wilayah timur pulau Jawa.

Fenomena bencana alam berskala raksasa tersebut menyelimuti kawasan pemukiman serta bangunan suci dengan jutaan ton material vulkanik padat selama berabad-abad lamanya.

Jejak kejayaan masa lalu itu perlahan menghilang dari ingatan kolektif masyarakat lokal sampai akhirnya beberapa penemuan tidak sengaja membuka kembali tabir misteri tersebut.

Jejak Suci yang Terkubur dalam Diam

Penemuan Candi Sambisari di Sleman pada tahun 1966 oleh seorang petani lokal menjadi bukti nyata bagaimana tanah Jawa menyimpan rahasia kelam masa lalu.

Candi batu megah tersebut ditemukan terbenam sejauh enam meter di bawah permukaan tanah akibat tertimbun endapan lahar dingin Gunung Merapi yang sangat tebal.

Penggalian arkeologi yang memakan waktu belasan tahun akhirnya berhasil merekonstruksi kembali keindahan arsitektur kuno yang sempat terisolasi dari peradaban manusia modern.

Peristiwa serupa kembali berulang ketika para pekerja konstruksi menemukan Candi Kimpulan di area kampus Universitas Islam Indonesia pada penghujung tahun 2009 lalu.