Berani Mengambil Langkah Berbeda

Aroma tanah basah dan dedaunan segar menyambut siapa saja yang melangkah masuk ke dalam kawasan perkebunan organik seluas dua hektar yang terletak di lereng Gunung Tangkuban Parahu.

Bambang Prakoso memetik selembar daun selada keriting berwarna hijau pekat lalu mengunyahnya secara perlahan untuk memastikan kualitas rasa manis alami yang disukai oleh para juru masak restoran ternama.

Pria berusia tiga puluh dua tahun tersebut memutuskan untuk meninggalkan kenyamanan kariernya sebagai insinyur perangkat lunak di Jakarta demi menggarap lahan keluarga yang sempat terlantarkan selama bertahun-tahun.

Keputusan nekat itu sempat mendapat penolakan keras dari keluarga besar yang menganggap profesi bercocok tanam tidak memiliki masa depan finansial yang menjanjikan bagi seorang lulusan perguruan tinggi ternama.

Namun tekad bulat untuk membuktikan bahwa sektor agribisnis bisa dikelola secara profesional membuat Bambang pantang menyerah menghadapi berbagai kendala awal yang menguras seluruh tabungan pribadinya.

Sentuhan Teknologi di Atas Tanah Subur

Langkah awal yang dilakukan Bambang adalah memasang puluhan sensor pintar mikro yang terhubung langsung dengan ponsel pintarnya guna memantau kelembapan tanah serta kadar nutrisi secara akurat.

Sistem penyiraman otomatis akan menyala secara mandiri setiap kali kondisi cuaca di sekitar kebun mulai panas dan mengancam kesegaran tanaman sayuran hidroponik yang sedang masa pertumbuhan.

Efisiensi penggunaan air dan pupuk organik dapat meningkat hingga empat puluh persen berkat bantuan analisis data presisi yang diperbarui setiap beberapa menit tanpa perlu pengawasan fisik secara terus-menerus.