Mungkin publik banyak yang belum mengenal mengenai sosok Ahmad Soetarjo. Dia adalah mantan anggota pasukan pengawal Presiden Soekarno. Tetapi, kini Soetarjo sudah berpulang. Ia meninggal di usia 101 tahun, Selasa (23/1) siang. Sebagaimana kesehariannya, proses pemakaman Soetarjo cukup sederhana. Ia dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Manding, Sragen, Jateng, Rabu (24/1) siang. Selama hidupnya, Soetarjo memang tidak banyak bercerita mengenai dirinya. Termasuk pernah masuk sebagai anggota pengamanan presiden. Meski begitu, anak Soetarjo membenarkannya. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh putra pertama Soetarjo, Eddy Herwanto,65. Saat ditemui wartawan di kediamannya, di Jalan Slamet Riyadi nomor 82 Cantel Kulon RT 2 RW 22, Sragen, Jateng, Eddy mengatakan, bahwa pengawalan ini juga dilakukan saat agresi militer I dan II di Yogyakarta. “Memang beliau jarang bercerita soal itu (pengawal presiden), tetapi dulu beliau pernah mengungkapkan bahwa dirinya pernah mengawal Presiden Soekarno,” terang dia. Eddy menambahkan, Soetarjo mengawali kariernya dengan jabatan Sersan Mayor. Soetarjo akhirnya memilih mengajukan pensiun dini pada tahun 1978. Menurut Eddy banyak hal yang membuat Soetarjo hingga memutuskan untuk pensiun. Diantaranya masalah buruknya birokrasi serta adanya ajakan untuk melakukan korupsi. “Dulu mungkin ada blok-blok gitu, jadi ayah mungkin risih. Akhirnya memutuskan untuk mengajukan pensiun dini. Karena ayah kan netral orangnya, tidak neko-neko” timpal putra kedua Soetarjo, Eddy Hary Susanto, 63. Karena tugasnya, Soetarjo pun terlambat menikah. Ia baru menikah saat berumur 34 tahun. Satu keunikan dari sosok Soetarjo menurut Eddy adalah keengganannya untuk berfoto. Eddy ingat benar, ayahnya itu sangat tidak suka berfoto. Satu-satunya foto resmi keluarga itu dilakukan pada 1 Januari 1959. Soetarjo banyak menghabiskan masa hidupnya di Yogyakarta. Ia akhirnya memutuskan untuk pindah ke Sragen kisaran tahun 1990-an. “Ayah tinggal di Yogyakarta mulai tahun 1965 dan akhirnya pindah ke Sragen,” katanya. Eddy menambahkan, sebelum meninggal Soetarjo juga berpesan jika dirinya enggan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, melainkan di pemakaman umum. Soetarjo meninggalkan seorang istri, 14 anak, 23 cucu dan sejumlah cicit. (Red)